Sebenarnya aku lebih suka pergi dengan teman kuliahku dulu di Amerika yang datang ke Jakarta. Dia ingin aku ajak jalan-jalan.. Tapi yach karena ada rapat sialan ini aku harus tunda deh sampai malam nanti. Aku sudah janjian dengan dia, akan aku jemput sehabis pulang kantor nanti. Eh.. Dia malah menolak dan bilang dia yang akan ke kantorku sore nanti. Dia bilang tidak apa harus menunggu karena dia bisa bertemu dengan sekretarisku, Lia.
Temanku itu, Jason, orang amrik asli. Pernah dia main ke kantorku dan tampaknya dia terpesona dengan kecantikan dan kesexyan Lia. Memang sekertarisku itu cantik dan sexy sekali. Dia berumur 24 tahun, berkulit putih dengan tinggi 175 cm. Posturnya yang tinggi dan langsing, didukung dengan buah dadanya yang besar(mungkin 36C).
Wajahnya sekilas mirip Lyra Virna bintang sinetron itu. Dia lulusan akademi sekretaris dan fasih berbahasa Inggris. Tak heran kalau si Jason suka sama dia dan selalu mengajak ngobrol kalau ketemu. Tetapi aku sudah peringatkan si bule itu, kalau sekertarisku tidak boleh diganggu. Hanya aku yang boleh menikmatinya.. (disamping tunangannya kali ye..).
Begitu masuk ke lobby, aku berharap melihat Noni di sana. Tapi ternyata yang ada di meja resepsionis bukan dia tapi si Agus office boy kantor.
"Selamat pagi Pak" Agus menyapaku.
"Pagi.. Lho kok kamu yang di sini, Noni mana?"
"Hari ini nggak masuk Pak"
"Kenapa?"
"Maaf Pak.. Saya nggak tahu"
Wah.. Kenapa ya si Noni nggak masuk hari ini. Apa karena dia tidak tahan lagi dengan perlakuanku pada dia.. pikirku. Begitu masuk ke ruanganku, aku telpon Ibu Diana atasan langsungnya.
"Bu Diana.. Noni kenapa kok tidak masuk?" tanyaku
"Oh.. Anu Pak Robert.. Anu. Si Noni minta ijin.. Apa.. Ibunya masuk rumah sakit.. Tadi pagi dia telpon saya." Ibu Diana ini memang selalu gugup kalau bicara denganku.
Dia sudah bekerja lama di kantor dan sudah berumur juga. Sejak ayahku merintis perusahaan ini, dia sudah bergabung.
"Terus kamu ijinkan?" tanyaku.
"Iiya Pak.. Maaf Pak.."
"Ya sudah. Ijin berapa hari?" tanyaku.
"Dua hari Pak"
"Apa?? Dua hari?? Tidak bisa!! Bilang sama dia harus masuk besok!!" perintahku.
"Baaiikk Pak Roobertt.."
Aku memang sedang nafsu dengan keindahan gadis belia Noni ini. Hari ini aku sudah berencana untuk memakainya sehabis meeting nanti. Beberapa kali memang aku pakai dia sewaktu jam kerja hanya untuk sekedar oral seks saja. Lain soalnya jika sudah jam pulang kantor. Jika sudah sepi aku setubuhi dia di kantorku sementara kadang kala pacarnya menunggu di lobby.
Eh.. Ternyata dia nggak masuk!! Ya sudah besok saja akan aku hukum dia. He.. He... Hm.. Memikirkan apa yang akan aku perbuat esok terhadap si Noni ini aku tersenyum sendiri. Aku harus kreatif nih.. Sekalian untuk jadi bahan cerita di 17Tahun.com nanti.
Meeting hari itu berlangsung sangat membosankan. Setiap kepala departemen memberikan presentasi tentang kinerja bagian masing-masing. Aku sudah tak sabar ingin cepat sore hari saja. Kulihat arloji Rolexku detiknya kok terasa lebih lambat dari biasanya. Tapi karena ayahku ada di ruangan itu, aku pasang wajah serius.. Walaupun dalam benakku yang terlintas bukan mengenai sales turnover, competitive analysis, dan lain sebagainya yang bikin orang ngantuk itu. Tetapi aku memikirkan mau aku ajak ke mana si bule gila anak buah george bush itu.
Yang menarik perhatianku, para manajer di ruangan itu tampak sesekali melirik ke Lia yang duduk di sebelahku. Memang dia hari itu berpakaian sexy nan mengundang hasrat setiap lelaki normal. Bajunya berleher agak sedikit rendah sehingga belahan buah dadanya yang ranum nampak menggoda. Juga roknya yang mini dan stokingnya menjadikan Lia begitu menjadi perhatian manajer-manajer di ruangan itu. Akupun tersenyum dalam hati.. Bolehlah kalian pelototin sekertarisku.. Asalkan tidak boleh sedikitpun menyentuhnya.
Setelah meeting selesai, akupun kembali ke ruanganku. Membalas e-mail termasuk beberapa e-mail dari pembaca forum 17 tahun ini. Tak lama Lia masuk ke ruanganku.
"Ada apa Lia?" tanyaku sambil masih mengetik e-mail di notebookku.
"Ini Pak.. Saya ada masalah sedikit" katanya.
"Coba ceritakan" kataku.
Lalu dia menceritakan bahwa dia merasa terganggu dengan perhatian yang berlebihan dari seorang karyawan di bagian IT bernama Junaedi. Ternyata Junaedi ini jatuh cinta berat sama Lia. Dia sering membelikan coklat, kue, kartu, bunga, dll. Yang paling mengesalkan Lia, si Junaedi ini sering telpon ke rumah atau ke HP, kirim SMS dll.
"Padahal dia tahu saya sudah bertunangan Pak.. Tapi dia tetap nekat terus" Lia menambahkan.
"Yach habis kamu cantik sih " kataku.
Lia tersenyum senang mendengar pujianku. Memang satu dua minggu terakhir ini Lia nampak cemburu karena perhatianku terfokus ke Noni. Sudah agak jarang aku berikan dia kenikmatan birahi seperti dulu. Tapi hari itu aku jadi horny sekali melihat dia. Mungkin karena kecewa Noni tidak ada, atau juga karena cara para manajer menelanjangi Lia dengan mata mereka yang membuat aku bergairah. Tetapi tentu saja penampilan Lia hari itu juga ok banget.
Tiba-tiba saja ada ide terlintas di benakku. Aku tahu kalau Lia ini seorang eksibisionis. Dia memang suka kalau keindahan tubuhnya dikagumi orang, hanya dia tidak mau kalau disentuh orang lain kecuali tunangannya dan aku tentunya. Pernah aku setubuhi dia di depan anak SMA, dan dia tampak sangat menikmatinya. Dia sendiri yang punya ide seperti itu, dan menawarkan kepada anak cowok SMA yang kita temui di mal untuk melihat dan memfoto kita saat bersetubuh.
Dapat dibayangkan betapa hornynya anak itu melihat Lia yang dengan sengaja menggoda dia saat bersetubuh denganku. Entah berapa kali anak tanggung itu beronani ria.., tanpa mendapatkan kesempatan sekalipun untuk menyentuh Lia. Mungkin hanya sedikit saat Lia meminta dia untuk membuka pengait BHnya yang ada di bagian depan itu.
"Bagaimana kalau kita kerjain si Junaedi seperti anak SMA dulu itu?" usulku sambil tersenyum nakal.
"Hm.. Nanti kalau dia bilang-bilang sama yang lain gimana Pak?" Lia tampak senang dengan ide itu walaupun agak cemas dengan resikonya.
"Ah.. Nggak mungkin dia berani begitu.. Terlebih dia juga nggak punya bukti"
"Iya Pak. Kalau begitu boleh.. Biar tau rasa dia.. Masa jelek begitu mau sama saya" kata Lia tersenyum. Hm.. Memang binal sekertarisku ini.
Hari itu sekitar jam 3.30 aku pulang kantor. Aman.. Karena ayahku sudah pulang sejak meeting selesai tadi siang. Aku ajak Lia tentu saja dengan alasan mau ketemu klien. Sebenarnya aku tak perlu pakai alasan-alasan segala, tetapi Lia merasa nggak enak dengan rekan-rekan sekretaris lainnya. Jadi aku pura-pura bilang ke dia untuk bawa bahan presentasi buat si klien di depan teman-temannya. Sebenarnya aku yakin kalau kelakuanku dan si Lia ini sudah jadi rahasia umum di sini, tapi yach memang si Lia ini ada-ada saja..
Tak lupa aku ajak si Junaedi. Aku telpon Pak Erwan manajer IT untuk meminjam Junaedi dengan alasan untuk memperbaiki PCku yang rusak di apartemenku. Memang PCku suka ngadat.. Nggak tau kenapa.
Aku dan Lia sudah siap menunggu di depan lift, baru si Junaedi nongol sambil membawa perkakas reparasinya. Kurang ajar juga nih anak, pikirku. Masak bos disuruh nunggu.
"Maaf Pak.. Tadi ada yang ketinggalan" katanya beralasan.
Kamipun langsung meluncur dengan Mercy silver metalik kesayanganku menembus jalanan kota Jakarta. Lia duduk didepan disebelahku, sedang Junaedi duduk dibelakang. Sabuk pengaman yang dikenakan Lia makin membuat buah dada putih 36Cnya mencuat. Mata Junaedi sudah lirik sana-lirik sini, tampak dari kaca spionku. Dia melirik paha mulus milik Lia yang terbungkus stoking. Dari cara duduknya tampak Lia memang sengaja menggoda dia.
Sebelumnya aku akan coba gambarkan tentang si Junaedi ini. Dia berumur 22 tahun, dan tampangnya "nerdy" sekali. Yach seperti professor linglung begitulah.. Memang orangnya pintar, tapi yach itu tadi.. Penampilannya ancur-ancuran. Pantas dia kerja di IT yang berhubungan dengan mesin bukan orang.
Dia sering diledek dan diganggu oleh teman-temannya, terutama sih oleh Lia. Mungkin karena dia kesal kok bisa ditaksir orang macam Junaedi ini. Omongan "najis", "hey jelek..", "gila lu ngaca dulu donk.. Mana nafsu gua ama lo" itu yang pernah aku dengar diucapkan Lia padanya. Pernah aku dengar si Junaedi ini nangis karena nggak tahan dimaki-maki Lia. Gara-garanya si Junaedi nekat mau traktir Lia waktu sehabis gajian. Bukannya diterima eh.. Malah dimaki secara kasar oleh Lia di depan umum.
"Daripada traktir gue mendingan lo nabung deh buat operasi plastik.. Kalau lo jadi ganteng kayak Pak Robert mungkin gue baru mau ama lo" desas-desusnya sih begitu yang dikatakan Lia saat itu. Wah.. Memang sekertarisku ini lain dari yang lain. Cantik bukan main tapi juga kejam sama orang yang lebih rendah dari dia. Juga liar di atas ranjang.. Hm.. Really my type of girl..
Singkat cerita, kamipun sampai di apartemenku. Di dalam lift Lia sudah mulai beraksi. Dia menciumiku sambil matanya tak henti menatap Junaedi yang tak berkedip menatap. Lia tampak senang sekali melihat Junaedi sudah mulai bernafsu. Pintu lift terbuka di lantai 10, dua orang masuk.., sehingga Liapun melepas ciumannya, tetapi tetap aku rangkul pundaknya sambil kuelus-elus. Lia tersenyum menggoda sementara Junaedi wajahnya mulai memerah..
Ke Bagian 2
Letter from My Friend
29 Agustus 2011 4:16
Surabaya, 14 Desember 2000
Kepada sahabatku tempatku bersandar
di tempat
Halo sobat,
Heran yah? Setelah sekian lama baru aku menulis surat kepadamu. Maaf, mungkin selama itu aku terbuai oleh mimpi indahku yang semu. Namun kuminta sedikit waktumu untuk mendengar ceritaku, sayang aku lebih suka menulisnya lewat surat namun cara ini lebih efisien daripada telepon bukan? Lagipula aku tak ingin mendengar ocehanmu yang selalu sok tahu dan sok dewasa.. ah jangan marah, aku hanya bergurau.
Begini,
Hari ini aku menangis sepuasnya, bukan, bukan karena hasil ujianku yang kutahu pastilah sangat-sangat jelek, bukan pula karena kemarahan Papa karena uang jajanku yang selalu habis. Tapi cintaku.. sayangku.. pergi..
Masih ingat Raja? Raja adalah satu-satunya pria yang mampu membuatku tertawa, mampu membuatku menangis gembira, mampu menepis awan-awan kelabu yang singgah di hari-hariku, yang bisa memelukku dengan lengan-lengannya yang kekar dan dadanya yang bidang. Raja pulalah yang membangkitkanku dari ketenggelamanku dalam duka yang menyayat hatiku delapan bulan lalu, setelah secara begitu menyakitkan, seorang lelaki mencampakkanku demi mantan pacarnya, ah kau pasti tertawa mengingatnya. Raja menghiburku dengan kata-katanya yang manis, membuatku tertawa dengan gurauan-gurauannya, membuatku merasakan diriku sebagai seorang wanita seutuhnya dengan perlakuannya yang gentle terhadapku. Rajalah yang membantuku melalui masa-masa berat di kesendirianku sebagai seorang anak tunggal di keluarga yang terlalu pas-pasan untuk menggaji seorang pembantu rumah tangga.
Ah.. betapa aku menyayangi Raja, bahkan melebihi kasih sayangku pada orangtuaku yang jarang di rumah. Kau tahu kan, profesi Papa sebagai seorang pegawai kantoran, dan Mama sebagai guru sangat menyita waktu mereka untuk menemaniku. Hanya di waktu malam saja mereka menyempatkan waktu untuk membelaiku, dan di hari Minggu, saat kami berangkat ke gereja. Jadi kurasa kau pun tak heran, di samping karena keberadaanku sebagai anak tunggal yang selalu haus akan seorang teman, aku adalah seorang wanita yang memainkan perasaan dalam setiap tindakan dan pikiranku, betapa aku membutuhkan sosok seorang kekasih yang mendampingiku di hari-hari sepiku. Menghangatkan dan menghiburku.
Aku berharap banyak, padanya, kuakui hal itu, karena siapakah aku? Aku bukanlah anak seorang kaya yang mampu memikat lawan jenisku dengan pernik-pernik perhiasan dan baju-baju mewah, bukan pula gadis yang sangat cantik rupawan yang bisa membuat bahkan seorang pangeran pun bertekuk lutut dan mengemis cintaku. Alangkah berbedanya kondisiku dengan Raja, yang terlahir di sebuah keluarga kaya, yang selalu berganti mobil setiap tahun, yang selalu mengenakan pakaian dan parfum ternama di sekujur tubuhnya, yang selalu keluar masuk tempat-tempat gaul di sisi-sisi jalanan Surabaya. Seorang lelaki menarik yang dapat menjatuhkan hati wanita manapun dengan senyum dan daya persuasifnya yang luar biasa. Namun yang kupuja darinya hanyalah kenyataan saat itu bahwa ia begitu menyayangiku, begitu menunjukkan betapa ia tidak memandang harta dan kecantikan dalam kecintaannya padaku.
Bagaimana mungkin seorang wanita tidak terlena oleh kesetiaan yang diberikan seorang pria kepadanya, bahkan perkenalanku dengan seluruh personil keluarganya semakin memicu tercurahnya kasih sayang dan kesetiaanku padanya. Kami telah berhasil menyatukan kedua kelompok kami, yang semula tidak saling mengenal satu sama lain, yang semula berbeda kultur dan kebiasaan, sehingga menjadi satu kelompok remaja yang cerewet dan menggemaskan. Semua sahabat kami, termasuk kau, ingat, mengakui kami sebagai pasangan yang paling serasi, di saat teman yang lainnya bermain layangan dengan kekasih-kekasih mereka (tahu maksudku?).
Segalanya berjalan begitu sempurna, walaupun ada gejolak, namun semuanya terasa dapat terselesaikan dengan baik, di gereja, maupun di antara kami pribadi.
Sobatku tersayang,
Aku ingin mengatakan kepadamu mengapa aku merasa sangat bersedih hari ini, mungkin satu kata perpisahan yang biasa saja takkan membuat hatiku berkeping-keping. Namun kau tahu, sobatku? Ada orang bijak berkata, "jangan melakukan hal yang dapat mencegah terlaksananya hal lain" mungkin kau tak paham artinya. Ah.. mungkin setelah kuceritakan pengalamanku ini kamu akan mengerti.
Sore itu, tiga bulan yang lalu, Raja datang ke rumahku seperti biasa. Dan seperti biasa pula tanpa basa-basi ia langsung menuju ke sudut ruangan dan memainkan jemarinya di atas tuts-tuts organ tuaku. Masih teringat saat itu, ia memainkan lagu "Bunga Terakhir" kegemarannya. Aku mendengarkan dengan seksama, menikmati suaranya yang berat mengiringi lagu itu, dan betapa kulihat dari sudut-sudut matanya terpancar penghayatannya yang begitu dalam terhadap lagu yang sedang dimainkannya. Membuatku terharu terbawa oleh perasaanku sendiri, memeluk punggungnya dan mencium rambutnya yang mulai sedikit panjang. Merasakan kehadiranku di belakangnya, Raja menghentikan gerakan jemarinya, membalikkan tubuhnya, dan menengadah menatap senyuman penuh kasih yang kuberikan padanya. Kulihat ia tersenyum, menarik tubuhku dan mengecup bibirku, membiarkan tanganku menopang berat tubuhku di pahanya.
Ah, bahkan diriku merasa sangat romantis, saat bibirnya bergerak menyapu bibirku seakan menggumam, "Aku sayang kamu.." Bagaimana aku bisa menolak saat ia menciumiku dan menekan tubuhku ke dalam pelukan paha-pahanya yang membuka. Bagaimana aku bisa menolak orang yang begitu kusayangi, saat ia mengangkat bajuku dan memasukkan telapak tangannya untuk menyentuh buah dadaku. Sentuhan yang hangat di punggungku, gerakan jemarinya yang lincah saat membuka kaitan bra-ku. Ahh.. hanya kenikmatan yang dapat kurasakan saat jarinya menyentuh ketelanjangan puting susuku, dan mempermainkannya dengan bibirnya dan kecupannya yang lembut.
Bagaimana kau pikir aku dapat membisikkan, "Ada Mama.." di telinganya saat ia membuka kancing celanaku dan menurunkannya menelusuri kaki-kakiku. Bahkan dalam keterlenaanku aku hanya bisa mendesah manja saat ia meraba celana dalamku dan menurunkannya dengan penuh kelembutan. Tak ada lain yang bisa kulakukan selain membungkukkan kepalaku dan memandangi ujung-ujung kaki celananya yang terlipat saat ia berdiri dan melepaskan celananya. Bahkan aku pun tak berani memandangi ketelanjangannya saat ia menjatuhkan celana dalamnya.
Kupejamkan mataku saat jemarinya meraih ujung daguku dan mengangkat wajahku supaya ia lebih mudah mengulum bibirku. Tanpa terasa aku pun menaikkan tumit kakiku, saat pinggulnya turun dan mengangkat pinggulku dengan ketegangan kemaluannya yang terselip di pangkal pahaku. Dapat kurasakan telapak tangannya menempel di kulit pantatku, dan membantu ujung-ujung kakiku menopang tubuhku, menciptakan keleluasaan bagi kemaluannya untuk bergerak dan menggesek bibir-bibir kemaluanku. Hhh.. alangkah nikmatnya merasakan ketegangan itu bergerak-gerak di kemaluanku, mengusap dan membelai, terkadang menusuk dengan lembut, menimbulkan erangan lirih yang keluar dari bibirku. Lengannya merangkulku, mengangkat tubuhku dan membiarkannya bergelantungan pada tubuhnya dengan lengan dan kakiku, saat itu kurasakan betapa kemaluannya menegang dan menyesak di kemaluanku, kubayangkan dalam imajiku ketegangan itu berdiri dan menyusup di bibir kemaluanku, menyembunyikan ujungnya pada lubang keperawananku.
Seluruh pesan Mama untuk menjaga harga diriku seakan hilang tatkala Raja menggendongku dan meletakkan tubuhku di sofa ruang tamu, berlutut di hadapan pahaku yang terbuka, dan bertanya dengan nada lembut dan mata yang penuh kasih,
"Kamu nggak pa-pa..?"
Tentu saja kamu tahu betapa hal itu sangat "pa-pa" bagiku. Namun yang kulakukan saat itu hanya tersenyum, dan memejamkan mataku. Sungguh saat itu seakan merupakan saat pembuktian seluruh kecintaanku padanya. Jadi kubiarkan saja saat ia mengecup ujung-ujung payudaraku, dan tangannya mempermainkan kemaluanku yang terasa sangat terbuka dan basah oleh kenikmatanku sendiri. Dan aku hanya bisa memejamkan mata menahan rasa nyeri yang menusuk-nusuk kemaluanku, saat kurasakan gigitan kecil di puting susuku diiringi tekanan-tekanan ketegangannya pada lubang kemaluanku.
"Ahh.."
Betapa rasa nyeri itu tak seakan tak kurasakan, bahkan kusadari aku pun membuka pahaku lebar-lebar, membiarkan lubang kemaluanku terbuka dan menerima setiap penetrasinya.
Kurasakan punggungnya yang tertancapi kuku jemariku bergerak-gerak, dan bibirnya menempel, menghisap seakan berusaha menelan seluruh gumpalan payudaraku. Kunikmati aroma rambutnya sebagai pengurang rasa nyeri di pangkal pahaku. Dan kurasakan ketegangannya memasuki kemaluanku semakin dalam.. semakin dalam.. Dan sobatku terkasih, di sinilah masalah itu dimulai. Mendadak ia menghentikan gerakannya, memegangi ujung kemaluannya sambil terduduk, walaupun kemaluanku masih terasa sangat nyeri, kuusahakan untuk duduk dan betapa terkejutku saat kulihat cairan putih kemerahan keluar dari sela-sela jemarinya.
"Ahhrrgg.. 'adikku', 'sobek' lagi.. aduh.."
Kudengar ia menggumam dan mengomel, peluh membasahi pelipisnya, segera aku berdiri, mengambil tissue dari meja dan menyodorkannya kepada kecintaanku. Ia mengerenyitkan wajahnya, seakan berusaha menahan sakit. Kuangkat lengannya membimbingnya ke kamar mandi, dan untunglah kamar mandiku ada di bawah tangga, sehingga tak mungkin terlihat oleh Mama yang saat itu kuduga sudah tertidur di kamar atas.
Raja segera memasuki kamar mandi dan dapat kudengar desahan dan erangannya, dari balik pintu. Raja keluar beberapa saat kemudian, alisnya masih berkerenyit, dan tangannya menutupi ujung kemaluannya, mulutnya berkerut sekan mengungkapkan rasa sakit yang dirasakannya saat itu. Waktu itu aku sudah memakai celanaku lagi. Jadi kulihat saja Raja menutupi ketelanjangannya, sambil tetap memegangi kemaluannya dan mengerutkan wajahnya.
"Kamu pernah luka.. di situ?"
"Iya.. enam bulan lalu, terjepit retsleting."
Ahh.. sudahlah. Lagipula, aku sayang dan percaya kepadanya. Kukesampingkan rasa nyeri dan mual di perutku, kupeluk dia dan kusandarkan pipiku di dadanya dengan menggumam manja.
"Uuu.. thayang.." kudengar ia tertawa lirih.
"Untung saja lukanya terbuka.. kalau tidak, bisa kebablasan kita."
Ah.. apapun, honey! Kuanggukkan kepalaku dengan perlahan. Mungkin kamu tidak mengerti kenapa kuceritakan hal percintaanku di atas, mungkin pula kamu akan merasa aku kotor dan merendahkan harga diriku sebagai wanita, mungkin kamu merasa terlalu tinggi dan jijik untuk mambacanya, namun di sinilah letak permasalahannya, oh, aku tidak menyalahkanmu apabila kamu melewatkan bagian itu, namun apabila kau langsung membaca isi suratku berikutnya dan merasa bingung, kumohon kau membaca bagian yang kau lewatkan.
Dan sobat, setelah kau mengerti permasalahannya, apakah kamu bisa menyalahkanku sebagai seorang wanita yang sangat menyayangi kekasihnya? Kita lanjutkan saja. Tepat sebulan yang lalu, kami bersama berikrar untuk tidak mengulangi lagi perbuatan itu, dan dapat kaubayangkan girangnya hatiku mendengar janji itu, betapa tidak..? Namun sobat tersayangku, betapa hidup ini terasa sangat getir, saat kemudian ia mengucapkan kata-kata yang menusuk hatiku, sekitar pukul 01.30 kemarin pagi.
"Lena, maaf.. aku nyeleweng."
Ahh.. sobat.. bagaimana semua ini bisa terjadi? Apakah salahku kepadanya? Sehingga ia tega berkata demikian kepadaku?
Raja pun bercerita mengenai pekerjaan sampingannya dan berbagai prosesi penempatan dirinya sebagai public relations di tempatnya bekerja. Raja lalu bercerita tentang tender seorang investor bernilai 2,5 miliar yang hanya bisa dimenangkannya melalui pendekatan dengan kekasih gelap si investor. Raja bercerita bagaimana ia terpilih sebagai si approacher. Raja bercerita bagaimana tender ini merupakan segala yang pernah ia cita-citakan, Raja pun bercerita mengenai percintaannya dengan si kekasih gelap di rumahnya. Raja mengatakan kepadaku betapa malunya ia menjumpaiku, dan ia mengatakan itulah alasannya mengapa ia terkesan manjauh dariku selama dua minggu ini, dan kau tahu? Saat kutanya beberapa hari lalu, ia selalu menghindar dengan mengatakan, "Aku sibuk.. aku sibuk.." Oh, pantaskah menurutmu seorang pria mengucapkan hal-hal menyakitkan seperti itu lewat telepon? Tidakkah ia ingin melihat air mata yang mengalir di pipiku? Walaupun aku berkata, "Ya.." terus, lalu seakan tanpa beban? Haruskah aku mengatakan kepadanya rahasia itu?
Bahwa tiga bulan lalu, saat ia berpura-pura meratap dan mengaduh di kamar mandi, kumasukkan telunjukku ke lubang kemaluanku, dan menitikkan air mata kebahagiaan ketika kulihat gumpalan darah kental di ujungnya setelah kukeluarkan? Namun akankah kukatakan bahwa aku juga berpura-pura mempercayai alasan 'adik'-nya yang 'sobek' itu? Alasan yang konyol itu? Bahkan beberapa minggu kemudian setelah kejadian itu, aku masih sempat membuktikan kemulusan batang kemaluannya, sesaat sebelum ia memintaku memasukkannya ke dalam mulutku. Aku pun tahu, alangkah sulitnya bagiku membuktikan bahwa diriku bukan seorang perawan lagi, dan betapa lemahnya alasan bahwa hanya karena ia pacarku, berarti ia yang melakukannya. Betapa alasan yang sangat bodoh, bukan?
Ha.. ha.. ha.. ha.. ha.. ha.. ternyata selera humorku belum hilang. Dapat kubayangkan alis-alis dewan juri yang terangkat, sudut-sudut bibir mereka yang tertarik, entah karena menganggapku terlalu menghalalkan segala cara untuk memperoleh cintaku, ataupun karena membayangkan oleh-oleh mewah yang bisa mereka bawa pulang untuk keluarganya dari uang segepok yang mereka terima sehari sebelumnya. Ahh.. malangnya nasib seorang wanita, bukan begitu pendapatmu sobat? Kamu tak usah bersedih untukku, jangan khawatir, aku tidak selemah itu untuk menenggak obat nyamuk ataupun mengunyah racun tikus, walaupun sempat terlintas di benakku, namun satu hal yang kutahu pasti, aku akan tetap berjalan tegak di atas kedua kakiku, menatap garang ke semua laki-laki perayu, dan mengatakan kepada mereka, sobat.
"Ke laut aje lu!"
Tapi, terima kasihku pada Tuhan yang menguatkan imanku dan kepada dirimu, sobat untuk waktu yang kauberikan kepadaku. Eh, mungkin kita bisa bersama menikmati sore lagi seperti dulu?








0 komentar:
Posting Komentar